Minggu, 28 Juni 2009

Sebarkan "SALAM"


بسم الله الرحمن الرحيم
Innalhamda li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd,

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat fillah, kita semua paham bahwa Segala keagungan, kemulia'an hanya milik Allah Subahanallahu Wa ta'ala semata, Manusia adalah mahkluk yang dhoif, kita hidup atas curahan Rahmat dan belas kasih-Nya...untuk itu sudah sepatutnya kita mensyukuri, mengabdi dan menta'ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.....

Ucapan salam dalam Islam,tak sekedar ucapan pembuka atau penutup pada pidato, atau ceramah didepan majelis umum sebagai formalitas. Ucapan salam merupakan urgensi kita akan kepatuhan, ketaatan serta kedhoifan(kelemahan) kita sebagai hamba Allah SWT. Salam muatan do'a atau permohonan kita kepada Allah SWT,yang tak satupun manusia atau makhluk dibumi dan di langit bisa mengabulkannya.

Kita sebagai umat Islam diwajibkan mengucapkan salam dalam sehari semalam minimal 10X, yang merupakan penutup dalam sholat kita.itu berarti pula,bahwa salam merupakan komponannya tiang agama. Fungsi lain dari ucapan salam adalah kewajiban kita sebagai hamba Allah kepada sesama muslim.

Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW:''Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 5 yaitu: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, dan memenuhi undangan,serta mendo'akan saudaranya yang bersin.(HR.Muttafaqun 'Alaih)

Dari hadist diatas,jelas bahwasalam mempunyai kedudukan yang sangat penting. Jika dalam sehari kita bertemu dengan 10 orang atau kita menerima telepon,lalu kita mengucapkan salam,maka 10X kita mendapatkan Do'a yang berisi keselamatan, rahmat, dan Keberkahan dari Allah SWT,terlepas dijawab atau tidak salam yang kita ucapkan.
''Apabila seseorang itu mendo'akan saudaranya dikala tidak adanya, maka Malaikat menjawab: Kamu pun menerima sebagaimana do'a mu itu". SUBHANAALLAH..........

Maka sungguh rugi jika kita kita bertemu dengan sesama muslim, menelepon atau di telpon,lalu kita mengucapkan kata selain ucapan salam, yang naif banyakdi antara kita mengucapkan kata yang tidak bermakna seperti ''DARLING'' lalu yang menjawab ''MODAR ORA ELING'' ASTAGHFIRULLAH............................

Ucapan seperti itu tak hanya ''tidak punya makna'' akan tetapi kemaksiatan. Ada beberapa SALAM yang di sunnahkan Rasulullah SAW untuk diucapkan selain kepada sesama muslim
1.Ketika memasuki Masjid
2.Ketika memasuki rumah
3.Ketika memasuki kuburan muslim, atau melewati nya
4.Ketika memasuki tempat baru atau daerah baru

Saatnya lah kita kita memperbaiki diri dalam semua aspek, termasuk ucapan kita sehari hari.

Wallahu'allam Bi Showab
wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jangan putus asa dari Rahmat Allah.


بسم الله الرحمن الرحيم
Innalhamda li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd,


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat fillah, kita semua paham bahwa Segala keagungan, kemulia'an hanya milik Allah Subahanallahu Wa ta'ala semata, Manusia adalah mahkluk yang dhoif, kita hidup atas curahan Rahmat dan belas kasih-Nya...untuk itu sudah sepatutnya kita mensyukuri, mengabdi dan menta'ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.....
Jangan putus asa dari rahmat Allah, dunia hari ini tidaklah keterlaluan jika ia disifatkan sebagai dunia yang liar atau asing. Liar dan asing kerana ia tampak begitu berjaya mengasingkan rasa kasih dan cinta kepada al-Khaliq dari benak hati manusia hingga tidak lagi gemar berjinak-jinak dengan Allah SWT.
Akhirnya, segala bentuk cinta dunia yang bersifat sementara pantas mengambil alih takhta di hati manusia. Sehingga cinta palsu menyumbang kepada segala kejahatan dan kerusakan di muka bumi.
Dalam mengingatkan kita mengenai fenomena ini, Sheikh Abu Madyan r.a ada menyatakan yang bermaksud: “Barang siapa yang sibuk dengan tuntutannya terhadap dunia, niscaya dibalakan dengan kehinaan di dalamnya”. (Lata’if al Minan fi Syarh Hikam Abi Madyan).
Maka di antara bentuk kehinaan itu ialah dipalingkan hati dari merasakan dirinya mendapat bahagian cinta dari Allah SWT dan menyebabkan hilangnya rasa baik sangka terhadap-Nya. Namun, sejauh manapun manusia itu memalingkan hatinya dari mengingati Pencipta-Nya, tetap jua Pencipta itu mencurahkan belas rahmat, ihsan dan kasih-Nya yang tidak berbelah bahagi. Walaupun pada setiap saat dan waktu hamba-hamba-Nya berterusan melakukan maksiat dan mengingkari suruhan-Nya. Hal ini, menunjukkan kehebatan dan kebesaran kasih dan cinta Allah SWT terhadap kita semua. Walau demikian, sehebat manapun cahaya cinta ilahi di sekeliling kita, ia tidak akan menyinari kehidupan mereka buta mata hatinya. Inilah yang menjadikan jiwa insan kosong dan sunyi walaupun dikelilingi harta kemewahan, anak-pinak dan sahabat handai. Situasi ini menjadikan dirinya berasa terbeban menunaikan pentaklifan syarak lantaran jiwanya yang kosong dari nikmat bermesra dan bermunajat ke hadrat Allah SWT. Situasi malang ini mungkin turut melanda para agamawan jika sentuhan manhaj atau madrasah cinta ilahi ini tidak mereka temukan dan terapkan dalam perjalanan mereka. Pelbagai Jelmaan Cinta al-Khaliq Di antara kunci menemukan sentuhan cinta Ilahi adalah dengan kita bertafakur tentang pelbagai hakikat keluasan cinta-Nya itu. Sesungguhnya seluas mana pun rasa cinta dan kasih yang dipersembahkan oleh makhluk kepada al-Khaliq tidak sedikit pun mampu menyaingi setitis kasih Allah terhadap hamba-Nya. Yang demikian itu adalah sifat Allah Yang Mulia di mana rahmat dan kasih sayang-Nya sentiasa mendahului kemurkaan-Nya. Keharuman kasih Allah SWT kepada manusia turut tersebar wangiannya melalui perutusan Sayyid al-Mursalin Muhammad SAW. Allah SWT berfirman, maksudnya: Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kurniaan-Nya ke atas orang-orang beriman tatkala mengutuskan buat mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. (ali-’Imran: 164) Baginda SAW adalah makhluk yang menyebarkan rasa kasih dan kerahmatan ini melalui mutiara kalam, perilaku dan akhlaknya. Maha Suci Allah yang telah mengutus Baginda SAW sebagai penyempurna bagi kemuncak akhlak yang mulia. Baginda SAW bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Walaupun Allah SWT berhak menzahirkan kedudukan-Nya sebagai Khaliq dan Rabb dengan apa cara yang dikehendai-Nya, kita akhirnya menerima risalah-Nya melalui sentuhan cinta makhluk pilihan-Nya, Nabi Muhammad SAW. Melalui risalah rahmat dan mahabbah (kasih sayang) itu, segala makhluk di muka bumi ini dapat menadah titis-titis rahmat dan kasih Allah SWT mengikut sekadar mana yang diizinkan oleh-Nya. Mereka yang kafir tetap diberi peluang mendengar, meneliti, merenung dan mencari jalan hidayah serta tidak terus diazab berdasarkan kekufurannya. Kaum munafik tidak diperintahkan agar dibunuh. Bahkan selagi lidahnya menyaksikan “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah”, maka darah dan hartanya terpelihara di sisi Islam walaupun hakikat kesudahan mereka adalah di tingkat terbawah dari tingkatan neraka. Demikian juga bagi kaum yang fasiq. Mereka diberi ruang dan peluang mencari jalan hidayah sepanjang kehidupannya dan bertaubat membersihkan diri daripada dosa-dosa lalu, tanpa diturunkan azab secara terus seperti mana yang melanda umat nabi-nabi terdahulu. Inilah sikap pemurah dan belas ihsan Allah SWT kepada makhluk-Nya, sedangkan Allah SWT tidak sedikitpun berkehendak atau perlu kepada makhluk-Nya seperti firman-Nya dalam hadis qudsi yang bermaksud: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian tidak akan dapat menggunakan sesuatu kemudaratan untuk memudaratkan-Ku dan tidak akan dapat menggunakan sesuatu yang bermanfaat untuk memberikan sesuatu manfaat kepada-Ku”. Melalui hadis qudsi ini Allah SWT menerangkan bahawa setiap maksiat hamba-Nya itu tidak sedikitpun dapat menggoncang kerajaan dan kekuasaan-Nya atau mengurangkan kehebatan-Nya. Dan setiap ibadat hamba-Nya itu tidak sedikitpun memberi manfaat kepada-Nya. Bahkan kekallah kerajaan Allah SWT gagah perkasa dan berdiri dengan sendiri-Nya tanpa memerlukan bantuan makhluk-makhluk-Nya. Maka hakikat sebenar Allah SWT memerintahkan hamba beribadat dan menunaikan perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya ialah demi kasih sayang dan rahmat-Nya. Ia agar manfaat semua itu kembali kepada para hamba-Nya, juga untuk faedah dan kebaikan mereka sendiri di dunia dan di akhirat. Peringatan inilah yang zahir dalam firman Allah, Dan sesiapa yang berjihad sesungguhnya dia berjihad untuk dirinya sendiri, sesungguhnya Allah adalah Maha Kaya daripada (memerlukan) sekelian alam. (al-Ankabut: 6) Di antara tanda cinta Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya juga, Dia sentiasa membuka pintu keampunan-Nya kepada mereka yang melampaui batas dan menzalimi diri sendiri dengan melakukan dosa dan maksiat. Malah, Allah SWT melarang para hamba-Nya berputus asa dari rahmat dan kasih sayang-Nya walau sebesar mana pun dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Allah SWT berfirman yang bermaksud: Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas (melakukan dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah… (al-Zumar: 53) Allah SWT dengan sifat Pengasih dan Penyayang-Nya membuka seluas-luasnya pintu keampunan buat mereka dengan pelbagai jalan. Di antara jalannya adalah memperbanyakkan amal kebajikan kerana ia adalah penghapus kejahatan. Selain itu, memperbanyakkan istighfar memohon keampunan kepada-Nya sebagaimana dalam maksud sebuah hadis qudsi: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan (dosa) pada waktu malam dan siang, sedangkan Aku mengampunkan dosa keseluruhannya, maka pohonlah keampunan daripada-Ku, nescaya Aku akan mengampunkan kalian”. Memperbanyakkan istighfar dan taubat juga adalah tanda seorang mukmin yang benar dan sempurna dalam keimanannya. Oleh kerana itulah, sekalipun Baginda SAW terpelihara daripada melakukan dosa dan maksiat, Baginda melazimi istighfar dengan jumlah yang banyak setiap hari. Menurut Sheikh al Islam Imam al Akbar Dr. Abdul Halim Mahmud r.a, Nabi SAW beristighfar bukan kerana melakukan dosa dan kelalaiannya sebab adalah mustahil bagi kedudukan dan darjat Baginda SAW. Sebaliknya, istighfar Baginda SAW adalah istighfar ibadah sebagai suatu munajat dan berlazat-lazat dalam pengabdiannya kepada Allah SWT. Inilah suatu sisi daripada gambaran keistimewaan dan kesempurnaan Rasulullah SAW bagi sesiapa yang telah dibukakan oleh Allah SWT pintu untuk mengenali-Nya. Cinta al-Khaliq terhadap makhluk juga, seperti yang dipetik dari kalam Nubuwwah, lebih hebat daripada kasih seorang ibu yang sentiasa bersungguh-sungguh menjaga, mempertahankan dan menjamin keselamatan bayinya yang masih kecil. Jika kasih ibu dipuja dan dinobatkan begitu tinggi oleh manusia tanpa mengira agama, maka seharusnya cinta dan kasih Tuhan itu lebih dipuji, dipuja dan didaulatkan. Justeru, wajarlah cinta ilahi itu dibalas dengan rasa pengagungan, taat setia dan menjunjung perintah dengan penuh keikhlasan, keazaman dan keluhuran budi. Para penghulu salafussoleh yang telah sekian lama meninggalkan kita telah pun mengecapi nikmat ini. Nikmat berlazat-lazatan dalam mencintai Allah SWT dan Allah SWT pula mencintai mereka. Munajat dan rintihan mereka menjadi perhiasan malam hari dalam usaha mendamba kasih-Nya. Mereka benar-benar telah mendambakan cinta dan kasih al-Khaliq. Cahaya kasih itu pula terpancar dari kalam nasihat dan bicara mereka buat umat. Bicara, nasihat dan pedoman mereka terbit dari hati yang telah disirami dengan cinta al-Khaliq. Lantas apa yang disampaikan benar-benar membekas di hati para pendengarnya. Lalu diamalkan dan dijadikan sebagai manhaj ikutan dalam kehidupan sehingga ke hari ini. Demikianlah keistimewaan dan keajaiban bagi hati yang telah disinari cahaya kasih dan cinta Allah SWT. Maka tiada lagi pilihan bagi golongan beriman selain berusaha mencari jalan memburu kasih dan cinta-Nya. Terdapat pelbagai jalan melalui amal kebajikan dan peribadatan untuk meraih kasih-Nya, sebanyak nafas yang keluar masuk di jasad insan. Memburu cinta Allah juga bererti memburu cinta para kekasih Allah yang boleh menyampaikan kita kepada Allah. Apabila kita dihimpunkan bersama para kekasih Allah SWT yang benar-benar mendapat pandangan khusus dan inayah-Nya, pada saat itulah segala kalam bicara, tindak-tanduk dan seruan kita menjadi cerminan bagi sunnah Penghulu Segala Rasul, Sayyiduna Muhammad SAW.
Semoga kita semua benar-benar dapat mengecapi nikmat cinta ilahi. Cinta Tuhan Yang Maha Tinggi, yang menyifatkan sifat cinta, kasih dan rahmat pada diri-Nya melalui firman-Nya yang bermaksud: Dialah Tuhan Yang telah menurunkan hujan setelah mereka (manusia) berputus asa dan Dia sentiasa menyebarkan rahmat-Nya serta Dialah Tuhan yang mengurniakan pertolongan dan Tuhan Yang Maha Terpuji. (asy-Syura: 28). Wallahu a’lam.

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sabtu, 27 Juni 2009

Jadilah Kalian Bersaudara Sesama Hamba Allah Subhanallahu Wa Ta'ala


بسم الله الرحمن الرحيم
Innalhamda li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd,


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat fillah, kita semua paham bahwa Segala keagungan, kemulia'an hanya milik Allah Subahanallahu Wa ta'ala semata, Manusia adalah mahkluk yang dhoif, kita hidup atas curahan Rahmat dan belas kasih-Nya...untuk itu sudah sepatutnya kita mensyukuri, mengabdi dan menta'ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.....

Jadilah Kalian Bersaudara Sesama Hamba Allah Subhanallahu Wa Ta'ala
قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ، فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّام

(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling dengki dan iri, dan jangan pula saling memusuhi, jadilah bersaudara sesama hamba Allah, dan tiadalah halal bagi muslim untuk memutus hubungan / memusuhi saudara muslimnya lebih dari tiga hari” (Shahih Bukhari)

Semakin zaman mendekati akhirnya maka Allah semakin mempermudah pengampunan Nya. daripada mukminin dan mukminat yang diangkat derajatnya setiap waktu dan saat dengan sunnah Sang Pembawa Rahmatnya Allah, ialah Sayyidina Muhammad Saw hingga setiap waktu mereka lewati siang dan malamnya mereka terus mendekatkan dan semakin dekat kepada Cinta Allah, kepada Keridhoan Allah, kepada Kasih Sayang Allah, kepada Cahaya Mahabbatullah, kepada Cahaya Keindahan Allah, mereka lewati hari – harinya dengan ruku’ dan sujudnya, dengan taatnya kepada Allah, mereka lewati dosa – dosa dengan istighfar dan taubat hingga lewatlah hari mereka dalam keluhuran dan hari demi hari, maka matahari dan bulan sebagai saksi, bumi sebagai saksi, jasadnya sebagai saksi, lidahnya menjadi saksi, tangan dan kaki menjadi saksi dan kesemua alam semesta menjadi saksi atas kemuliaannya. Dan alam semesta menjadi saksi atas kecintaan Allah padanya.

Sebagaimana diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Rasul saw bersabda “idza ahaballah abdan qaala Li Jibril.. Hadirin – hadirat, Rasul saw bersabda jika Allah telah mencintai seorang hamba maka Allah berkata kepada Jibril, “wahai Jibril, Aku telah mencintai fulan” maka Jibril turun ke langit dan mengumumkan kepada angkasa raya, berjuta – juta galaksi di langit dan kepada semua yang ada di langit dan di bumi. “Wahai penduduk angkasa raya, Allah telah mencintai fulan, maka cintailah ia”, jadilah seluruh debu, hewan dan tumbuhan mengenal hamba yang dicintai Allah dan kecintaan Allah kepada hamba itu terbit dengan sunnah dan tuntunan Sayyidina Muhammad Saw. “In kuntum tuhibbunallah fattabi’uniy yuhbibkumullah” jika kalian mencintai Allah, ikutilah Nabi Muhammad Saw maka kalian akan dicintai Allah Swt.(QS. Ali Imran : 31.)

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah,
Demikian agung dan luhurnya Rabbul Alamin memperindah kehidupan setiap keturunan Adam yang mau beriman kepada Allah, yang mau mengikuti tuntunan Sang Nabi saw, dan mau menghiasi jiwanya dengan kedamaian. Allah Swt berfirman “alladzina aamanu wa tathma’innu quluubuhum bidzikrilah, alaa bidzikrillah tathma’innulquluub” ketahuilah orang – orang yang beriman itu tenang hatinya dengan mengingat Allah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah tenang dan damainya sanubari. (QS. Ar-Rad : 28)

Ikhwan dan akhwat yang berbahagia, satu nama Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi, yang jika diingat akan menimbulkan kedamaian, menenangkan seluruh sel tubuh kita, membawa kedamaian pada seluruh sel tubuh kita dan membawa aura kemuliaan yang terbit dan muncul dari sanubari kepada seluruh tubuhnya dan kepada alam sekitar. Doctor Albert Benson dari fakultas kedokteran di Universitas Harvard menemukan satu penemuan yang sangat mengejutkan. Setelah ia mempelajari cara untuk membawa kedamaian dan ketenangan bagi manusia. Belasan tahun ia mempelajari dan mencari, ia menemukan satu penemuan yang sangat mengejutkan. Apa penemuannya? Tidak pernah ada kedamaian yang ia temukan bisa mendamaikan seorang manusia, ketenangan hatinya kecuali dengan iman kepada Allah. Dan tidak pernah ada kedamaian yang mencapai hebatnya orang yang beriman kepada Allah dibanding iman kepada apapun selain-Nya. Mengingat air terjun yang indah, mengingat gunung yang indah, mengingat kekasih, mengingat kenikmatan, apapun yang ia perbuat untuk mencapai kedamaian, belum ada satu metode yang mereka temukan terkecuali kedamaian itu sangat memuncak ketika manusia mengingat Allah.
Ikhwan dan akhwat, maka ia menyebutkan (doctor Albert Benson) dari Universitas Harvard bahwa keturunan Adam memang telah dicipta untuk hanya taat dan beriman kepada Allah, yang dengan itu tenanglah jiwanya, yang dengan tenang jiwanya maka tenanglah seluruh tubuhnya dan ketenangan seluruh sel tubuhnya. Demikian indahnya penemuan itu membuka Keluhuran Ilahi dan Allah sudah berfirman “alaa bidzikrillah tathma’innulquluub” dengan mengingat Allah maka tenanglah sanubarinya. (QS. Ar-Rad : 28.)
Wahai jiwaku dan jiwa kalian yang sering diombang – ambingkan dalam gelombnag kehidupan, dalam limpahan kenikmatan hingga terjebak pada kekufuran dan tidak bersyukur atau kepada kesusahan hingga terjebak pada tidak taat kepada Allah dan kufur. Belum lagi, Allah terus mengombang – ambingkan keturunan Adam (agar mereka mencari kekuatan dan ketenangan Nya swt), namun ketika jiwanya telah menyimpan aura kekuatan terbesar di alam semesta yaitu Allah Jalla Wa Alla, maka ia akan sabar dengan apapun yang terjadi, tidak akan bisa mengecohnya karena jiwanya bersama Allah Jalla Wa Alla. Kalau sudah jiwa dan sanubarinya bersama Allah, mengingat Allah, dalam kemuliaan Allah, maka ia dalam lindungan benteng kekuatan Allah Jalla Wa Alla.

Ikhwan dan akhwat yang dimudahkan Allah ntuk mencari ilmu,,
Rasul saw bersabda sebagaimana hadits yang kita dengar diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, beliau saw “la tabaghadhu, wala tahasadu, wala tadabaru, wa kunu ibadallah ikhwanan, wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyamin” janganlah kalian saling membenci.., kata Sang Nabi saw. Kenapa? Kita akan perjelas nanti. Karena perbuatan manusia itu akan membawa kerusakan di dunia dan akhirat. “la tabaghadhu, wala tahasadu..” janganlah kalian saling benci dan saling dengki. Lihat saudara kita mendapat kenikmatan jangan dengki dan iri, karena Yang Maha Memberi masih tetap memberi dan bisa memberi. “..wala tadabaru..” jangan saling membelakangi. Tadaabaru itu maksudnya adalah orang yang ketika jumpa dengan saudaranya muslimin buang muka, atau lebih ringkasnya ialah jangan bermusuhan...wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyaamin” dan tidak dihalalkan bagi saudara muslim untuk bermusuhan lebih dari 3 hari. Sebelumnya Sang Nabi mengatakan “..wa kuunuu ibaadallahi ikhwanan” jadilah kalian sesama hamba Allah itu bersaudara, sesama muslimin itu bersaudara, persaudaraan yang lebih erat daripada persaudaraan pertalian darah. Karena kalau persaudaraan pertalian darah kalau wafat terpisah, tapi kalau saudara seiman, wafat lalu hidupnya di alam barzah dan di akhirat tidak akan pernah terpisah. Semakin kita menyambung hubungan silaturahmi dengan manusia, sesama iman, sesama muslimin – muslimat, maka Allah Swt akan semakin menyambung Kasih Sayang-Nya kepada kita. Semakin seseorang tidak memiliki kebencian kepada orang lainnya, makin indah hidupnya di dunia dan akhirat.
Para ilmuwan dalam penemuan mutakhirnya menemukan satu penemuan yang menakjubkan bahwa ketika seseorang itu marah atau timbul sifat benci didalam dirinya maka terpancarlah dari dalam tubuhnya hormon – hormone stres, hal itu menimbulkan tuntutan sel sel otot yang ada di jantung akan oksigen yg berlebihan,Marahnya seseorang atau bencinya ia pada sesuatu atau benci pada orang lainnya maka itu akan menyebabkan lepasnya hormon – hormon tersebut dan jika itu terjadi akan membuat kebutuhan yang berlebihan atas oksigen pada otot – otot jantungnya, dan oksigen itu tidak bisa dipenuhi oleh paru – parunya. Berbeda dengan orang yang berlari, jantungnya berdebar cepat tapi tubuhnya bergerak. Tapi kalau tubuhnya tetap diam saja hingga benci dan kemarahannya yang muncul maka jantungnya berdebar dengan keras yang mengakibatkan otot pada jantungnya membutuhkan oksigen yang lebih banyak dan ini tidak bisa dipenuhi oleh paru – parunya. Lantas apa yang terjadi setelah itu? Itu menyebabkan pengentalan keping – keping darah pada jantung. Apa yang akan terjadi setelah itu? Itu menyebabkan sering terjadinya serangan jantung. 60% serangan jantung terjadi pada orang yang sering marah dan sering benci kepada orang lainnya.
Dan penemuan yang lebih menakjubkan, mereka meneliti orang – orang yang sakit. Para ilmuwan di Amerika, mereka meneliti orang – orang yang sakit. Mereka merasa ringan sakitnya ketika memaafkan orang yang menyakiti mereka. Ini penemuan dengan jelas, selaras dengan sunnah Sayyidina Muhammad Saw. “la tabaaghadhu, wala tahaasadu, wala tadaabaru, wa kunu ibadallah ikhwanan, wala yahillu li muslimin an yahjura akhaahu, fauqa tsalatsati ayyaamin” janganlah kalian saling membenci, jangan saling memusuhi. Sang Nabi saw memahami, karena dalam setiap tuntunan beliau itu tersimpan kesejahteraan dan kesehatan di dunia dan juga kebahagiaan di akhirat. Semakin sirna seseorang dari membenci orang lainnya makin ringan semua penyakitnya, semakin jauh dari serangan jantung. Demikian hebat sunnah Muhammad Rasulullah Saw. Orang yang paling pemaaf, ialah Sayyidina Muhammad Saw.

Ikhwan dan akhwat yang diberkahi Allah,,
Allah Swt telah menjadikan kemuliaan pada jiwa yang dipenuhi cahaya Ilahi maka jiwa itu akan sulit dendam kepada siapapun. Demikianlah jiwa Sayyidina Muhammad Saw. Jiwa yang dipenuhi kekuatan Ilahi akan berpengaruh kepada apapun yang ada didekatnya. Sebagaimana penemuan Prof. Masaru Emoto dari Jepang, yang telah sering kita dengar bahwa air itu bereaksi dengan emosi orang yang ada di hadapannya. Kalau orang yang dihadapannya marah – marah maka jika air itu dilihat dengan mikroskop dengan skala tertentu akan berubah menjadi buruk bentuknya. Dan ketika orang yang ada di hadapannya tenang maka air itu berubah menjadi lebih indah jika dilihat dengan skala tertentu di mikroskop. Ini jiwa yang tenang, lebih – lebih lagi jiwa yang dipenuhi Cahaya Allah. Ini berlaku bukan hanya pada air tapi berlaku untuk alam semesta. Bahkan merubah hal – hal hina menjadi hal yang mulia, sebagaimana firman Allah didalam hadits qudsiy riwayat Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) “humul julasaa’ laa yasyqaa bihim jaliisuhum” orang yang duduk bersama orang – orang yang berdzikir, walaupun niatnya bukan untuk berdzikir, dia mendapatkan pahala dan kemuliaan. Kenapa? Karena bersama orang yang berdzikir. Air bisa bereaksi dengan jiwa yang ada di hadapannya. Demikian pula dengan alam semesta ini.

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah,
Inilah Allah Swt menjadikan jiwa – jiwa mulia itu sebagai pembawa penyelamat di muka bumi. Sebagaimana Allah Swt berfirman “kalau seandainya bukan karena pria – pria mukminin dan wanita – wanita mukminat yang kalian tidak ketahui kemuliaan mereka itu, kalau mereka itu tiada, kalau mereka itu pergi, maka niscaya akan turun azab yang pedih kepada wilayah itu”. (QS Al Fath 25) .Tapi karena ada kaum mukminin dan mukminat yang melakukan jamaah. Sebagian ulama mengatakan ini pada orang – orang yang melakukan shalat jamaah atau jamaah majelis dzikir atau jamaah majelis taklim, maka mereka inilah yang menyingkirkan musibah. Kenapa? Karena alam semesta sudah dikuasai oleh satu kekuatan tunggal yang Maha Mengatur segala kejadian untuk tetap memuliakan dan membawa keberkahan bagi jiwa – jiwa yang dipenuhi cahaya Allah.

Allah Swt berfirman didalam hadits qudsiy “ana ma’a ‘abdi haitsu maa dzakaranii wa taharrakat bii syafataah” Aku bersama hamba – hambaKu ketika ia mengingat-Ku dan ketika kedua bibirnya bergetar menyebut Nama-Ku. Kalau sudah Allah sudah bersamanya maka kedamaian bersamanya, kalau kedamaian bersamanya, kedamaian bersama keluhuran. Demikian indahnya jiwa Sayyidina Muhammad Saw. Dan semoga aku dan kalian terwarnai dengan Cahaya Keindahan Allah Swt.

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah,
Setiap perbuatan – perbuatan ibadah yang merupakan sunnah Sang Nabi saw tersimpan padanya Cahaya Keridhoan Ilahi. Diriwayatkan didalam Shahih Muslim dalam salah satu hadits qudsiy bahwa Allah Swt berfirman di hari kiamat kepada para hamba – hambaNya. “Hamba – hambaKu, Aku sakit kenapa kalian tidak menjenguk-Ku, Aku lapar kenapa kalian tidak memberi-Ku makan, Aku haus dan kalian tidak memberi-Ku minum”, maka para hamba – hamba bertanya “wahai Allah, sungguh bagaimana Engkau ini sakit sedangkan Engkau Rabbul Alamin?, bagaimana Engkau lapar sedangkan Engkau Rabbul Alamin?, bagaimana Engkau haus sedangkan Engkau Rabbul Alamin.?”. Allah menjawab “hamba-Ku, kau lihat hamba-Ku (fulan) sakit, kau tidak menjenguknya. Kalau seandainya kau menjenguknya saat itu, kau akan temukan Aku bersamanya”. Maksudnya apa? Bukan Allah ada disamping orang yang sakit, tapi Keridhoan dan Kasih Sayang Allah ada bersama orang yang menjenguk orang yang sakit. (syarah Nawawi ala shahih Muslim) “Hamba-Ku (fulan) lapar, ia minta padamu makanan dan kau tidak memberinya? apakah kau tidak tahu bahwa hamba-Ku kalau kau beri ia makan maka kau akan temukan Aku bersama orang itu”. Maksudnya apa? Kau akan mendapatkan cintanya Allah dengan membantu orang yang kelaparan itu. “Hamba-Ku (fulan) kehausan, ia minta minum padamu dan kau tidak memberinya? kalau kau memberinya saat itu, kelak akan kau temukan Aku bersamanya”. Demikian sifat – sifat mulia membantu sesama membuka rahasia keridhoan Allah Jalla Wa Alla.

Oleh sebab itu, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari tentang salah seorang wanita bertanya kepada Rasul saw “Wahai Rasulullah, aku punya harta yang lebih, boleh tidak aku sedekahkan pada suamiku dan anakku? boleh tidak sedekah kepada kerabat sendiri?”, maka Rasul saw menjawab “untukmu dua pahala”. Yang pertama kau dapat pahala shadaqah dan yang kedua kau dapat pahala menyambung silaturahmi dengan kerabatmu. sering dipertanyakan, mana yang lebih didahulukan, umum atau keluarga sendiri ?. Justru keluarga sendiri dulu baru orang lain, bahkan kepada keluarga sendiri, kata Rasul saw. Ada dua pahala, yaitu pahala shadaqah dan pahala menyambung kekerabatan. Demikian indahnya tuntunan Nabiyyuna Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman di dalam hadits qudsiy riwayat Shahih Bukhari ”ana ‘inda dzhanni ‘abdiy biy” Aku bersama persangkaan hamba-Ku. “Barangsiapa yang memusuhi wali – wali Ku, Aku umumkan perang kepadanya”. Ini Allah Swt berfirman menunjukkan kalau Allah akan menghancur leburkan semua mereka yang memerangi para wali – wali.
“Wamaa taqarraba ilayya abdi…”, tiadalah seorang hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan menjalankan apa – apa yang Aku wajibkan untuk mereka, dan hamba-hamba Ku itu tidak puas hanya menjalankan yang wajib saja, ia terus mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang sunnah sampai Aku mencintainya, (kata Allah).
Subhanallah!! Jadi Cintanya Allah itu tersimpan pada hal yang fardhu (wajib) dan yang sunnah. Jadi jangan menentang syari’ah, sampai kemanapun puncak kemuliaan ini dicari, tidak akan bisa tercapai derajat para wali terkecuali dengan mengamalkan syari’ah dan sunnah. Segala hal yang bertentangan dengan syari’ah dan sunnah maka tentunya tidak akan mencapai derajat cinta kepada Allah. Sebesar – besar apapun pengakuan seseorang jika ia menentang syari’ah dan menentang sunnah Sang Nabi saw maka ia mengaku seorang yang mulia di sisi Allah maka ia batil. Karena seorang wali tidak dicintai oleh Allah dan diangkat oleh Allah sebagai wali terkecuali ia telah mengamalkan hal – hal yang fardhu dan hal – hal yang sunnah sampai Allah mencintainya.
Demikian kelanjutan riwayat Shahih Bukhari, “jika hamba – hambaKu itu sudah mendekat kepada-Ku dengan hal yang fardhu dan yang sunnah sampai Aku mencintainya, maka jika Aku mencintainya Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan aku menjadi tangan dan kakinya yang ia gunakan untuk bergerak dan jika ia meminta pada-Ku, Aku akan mengabulkan permintaannya, jika ia minta perlindungan maka Aku melindunginya”.

Ikhwan-akhwat, tentunya yang dimaksud bukanlah Allah menjadi telinga, Allah menjadi pendengaran dan penglihatan, Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari menjelaskan bahwa maksud dari ucapan hadits qudsiy ini adalah orang yang menjaga dirinya dari hal yang fardhu dan sunnah sampai Allah mencintainya, Allah yang akan menjaga panca inderanya dari hal – hal yang dimurkai Allah dan akan muncul hal – hal yang lebih dari indera keenamnya. Dari penglihatannya, pendengarannya, tangan dan kakinya.

Hal ini teriwayatkan banyak didalam riwayat Shahih bahwa Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu, beliau sedang berkhutbah jum’at tiba – tiba di tengah – tengah khutbah berteriak “naik ke atas bukit”. Para sahabat bingung, sedang khutbah jum’at bicara tentang naik ke atas bukit apa maksudnya? Ada Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah wa radiyallahu anhu hadir saat itu, Sayyidina Ali berkata “catat tanggal dan waktunya”, maka para sahabat mencatat tanggalnya. Tidak lama beberapa minggu, kelompok pulang dari peperangan, mereka berkata “kami terjebak dalam peperangan hampir saja kami kalah, tiba – tiba kami mendengar suara Umar bin Khattab tanpa wujud yang mengatakan “naik ke atas bukit”. Wujudnya tidak ada, tapi suaranya saja. Kami naik keatas bukit lalu kami meneruskan peperangan dan akhirnya kami menang. Kapan ini terjadi? Ia berkata “kira – kira hari jum’at, saat waktu shalat jum’at”. Subhanallah!! Sayyidina Umar sedang khutbah jum’at seraya berkata “naik ke atas bukit”, ia sedang berhadapan dengan jama’ah tapi penglihatan dan pendengarannya sampai kepada saudara – saudara muslimnya di tempat yang jauh. Ia menolong dan membantu mereka dengan memberikan kepada mereka penyelesaian yang membuat mereka menang “naik ke atas bukit, naik ke atas bukit”, selamat mereka.
Demikian hebatnya para wali Allah Swt, tentunya sangat banyak. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, Sayyidina Ali Zainal Abidin dan lain sebagainya yang kesemuanya ahlul khusyu’, kesemuanya orang yang menjalankan sunnah Sang Nabi saw, kesemuanya tidak mau bertentangan dengan Allah dan Rasul saw.

Hadirin – hadirat, kita bermunajat kepada Allah Swt meneruskan daripada doa Nabi kita Muhammad Saw untuk kemuliaan dan pembenahan tempat ini. Rabbiy Rabbiy angkat semua kesulitan dari kami, dari seluruh muslimin – muslimat.
Kita bermunajat kepada Rabbul Alamin, Wahai Yang Menguasai alam semesta, Wahai Yang Selalu Mendamaikan jiwa yang selalu mengingat-Nya, Wahai Yang Maha Memberikan kedamaian dunia dan akhirat, damaikan jiwa kami, damaikan hari – hari kami, damaikan kehidupan kami, damaikan alam barzah kami, damaikan kematian kami kelak, damaikan kami di yaumal qiyamah. Wahai Cahaya Kedamaian dunia dan akhirat yang terbit dengan kebangkitan Sayyidina Muhammad Saw, kami bertawassul demi keluhuran cahaya risalah Sang Nabi saw yang menerangi jiwa dan kehidupan kami dan hari – hari kami dengan Keagungan Nama-Mu Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Do’a Nabi SAW Mohon Perlindungan Allah SWT


بسم الله الرحمن الرحيم
Innalhamda li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd,


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat fillah, kita semua paham bahwa Segala keagungan, kemulia'an hanya milik Allah Subahanallahu Wa ta'ala semata, Manusia adalah mahkluk yang dhoif, kita hidup atas curahan Rahmat dan belas kasih-Nya...untuk itu sudah sepatutnya kita mensyukuri, mengabdi dan menta'ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.....

Nabi s.a.w.bersabda, “Yang terbaik diantara kamu sekalian ialah yang terbaik perlakuaannya terhadap ahlulbaiytku, setelah aku kembali kehazirat Allah.” (Hadis Sahih dari Abu Hurairah r.a. diriwayatkan oleh al-Hakim, Abu Ya’la, Abu Nu’aim dan Addailamiy)

Do’a Nabi SAW Mohon Perlindungan Allah SWT

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ :
إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ (صحيح البخاري

Dari Ibn Abbas ra anhuma, bahwa Nabi saw berdoa mohon perlindungan Allah untuk cucu beliau saw yaitu Hasan dan Husein, seraya bersabda : “Sungguh Ayahanda kalian (kakek moyang kalian yaitu Nabi Ibrahim as) meminta perlindungan Allah untuk Ismail dan Ishak (putra Nabi Ibrahim as yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq) dengan Doa : Aku berlindung Demi kalimat kalimat Allah kesemuanya, dari segala syaitan, dan segala racun, dan dari segala penyakit penyakit akal dan kegilaan” (Shahih Bukhari).

Limpahan Puji Kehadirat Allah Jalla Wa Alla yang menghimpun dan mengizinkan kita kembali hadir bertamu kehadirat Keridhaan-Nya, kehadirat Kasih Sayang-Nya, kehamparan Kelembutan-Nya yang kehadiran kita dengan di malam hari ini membuka rahasia keabadian yang abadi dan kita tidak keluar dari majelis ini terkecuali telah dihapus seluruh dosa kita. (Aamin)

Ikhwan-akhwat fillah yang dimuliakan Allah,
Demikian kehadiran teragung, kehadiran bertamu kepada Allah Jalla Wa ‘Alaa di majelis dzikir, di masjid, di majelis ta’lim dan juga ditempat – tempat beribadah. Mereka bertamu kepada Allah Jalla Wa Alla. Dan hadirin – hadirat jika kita keluar dari majelis ini, dari masjid ini, hendaknya jiwa kita terus bertamu kehadirat Allah walau jasad kita keluar dari majelis. Jadikan jiwa kita selalu bertamu kehadirat Nya dan Kasih Sayang-Nya.
Seindah – indah lintasan pemikiran, seindah – indah renungan, adalah renungan yang mengacu kepada keridhaan Allah, menginginkan Allah, mencintai Allah, merindukan Allah dan tentunya tanpa lupa mencintai Sang Nabi utusan Allah yaitu Sayyidina Muhammad Saw.

Manusia yang menjadi perantara Kasih Sayang Ilahi. “Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil a’lamin” Ku-utus engkau (wahai Muhammad) untuk membawa Kasih Sayang-Ku untuk sekalian alam. (QS. Al Anbiyaa : 107).

Ikhwan-akhwat fillah, maka kenal dan sampailah kita pada Kasih Sayang Ilahi, Cahaya yang melebihi segenap cahaya, Cahaya yang menciptakan seluruh cahaya melebihi terangnya cahaya yang hanya bisa dipahami oleh mata, tapi Cahaya Allah menyejukkan jiwa. Cahaya Allah jika telah menerangi sanubari maka tenanglah jiwa kita. Betapa jiwa yang sedang gundah dalam keadaan yang indah secara jasadiyyah. Secara jasadnya ia dalam keadaan yang baik tetapi jiwanya dalam keadaan gundah maka semua yang dilihatnya baik menjadi buruk, dan semua yang buruk menjadi lebih buruk dan ia melihat keadaannya adalah seburuk – buruk keadaan. Akan tetapi jika terbit Cahaya Ilahi pada sanubarinya maka ia akan tenang menghadapi hari – harinya, selalu ceria dan bersahaja melewati hari – harinya siang dan malam, yang ini semua hanyalah detik – detik penantian untuk berjumpa dengan Yang Maha Mengakhiri segala kehidupan, Dialah Allah Jalla Wa Alaa (Jalla wa ‘alaa : Maha Berwibawa dan Maha Luhur).

Inilah detik – detik penantian kita melewati siang dan malam dan kejadian kehidupan kita yang setelah itu kita akan menuju kehidupan yang kekal. Dan Rasul saw selalu menuntun kita kepada keindahan kehidupan agar kita terjaga daripada bala dan musibah dan kesusahan di dunia dan akhirat. Demikian kehendak Allah Swt.

Sampailah kita pada hadits mulia ini, diriwayatkan oleh Sayyidina Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bahwa dikatakan bahwa Rasul saw membacakan Sayyidina Hasan wa Husein (cucu beliau saw) putra Sayyidatuna Fatimah Azzahra dan Sayyidina Ali karramallahu wajhah wa radhiyallahu anhuma. Menunjukkan bahwa bacaan ini bukan dibaca saat lahirnya bayi tetapi bacaan ini boleh dibacakan kapan pun. Maka oleh sebab itu, simpan kertas ini untuk kalian yang sudah punya keturunan (ataupun belum). Bacakan mulai ucapan “Audzubikalimatillahittammati min kulli syaithan wa hammah wa minkulli a’inin lammah” demikian riwayat Shahih Bukhari.

Rasul saw bersabda “inna abakuma yu’awwidzu biha..” sungguh ayah kalian berdua (ayah : kakek moyang kalian berdua yaitu Nabi Ibrahim as, wahai Hasan dan Husein) meminta perlindungan kepada Allah untuk putranya yaitu Ishaq dan Ismail alaihimassalam. Yang dimaksud ayah kalian berdua disini adalah Nabi Ibrahim bukannya ayah dari Hasan wa Husein tapi ayah dari nenek moyangnya yang keberapa. Lebih dari kakek, dari kakek, dari kakeknya. Di dalam bahasa arab ayah itu bisa bermakna kakek, bisa bermakna paman, bisa bermakna kakek dan kakeknya lebih lagi, mengutip dari hadits ini riwayat Shahih Bukhari terbukti “inna abakuma yu’awwidzu biha Ismail wa Ishaq” sungguh ayah kalian berdua (wahai Hasan dan Husein)…

Nabi Ibrahim itu membaca doa ini untuk meminta perlindungan kepada Allah untuk putranya yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Nabi Muhammad Saw adalah keturunan Nabi Ismail, walaupun jauh nasabnya tapi nasabnya bersambung kepada Nabi Ismail bin Ibrahim alaihis salam. Dan Nabi – Nabi yang lain bersambung nasabnya kepada Nabi Ishaq bin Ibrahim alaihis salam. Jadi hadits ini luas maknanya.

Yang pertama, doa ini boleh dibacakan untuk anak kita yang baru lahir atau yang sudah bertahun – tahun usianya pun bisa. Dan yang belum punya keturunan, simpan saja dan niatkan kalau punya keturunan nanti bacakan ini. Kenapa? Kita lihat isinya “Audzubikalimatillahittammah….” Aku berlindung demi kalimat – kalimat Allah kesemuanya.. Kita tidak bisa mengupasnya satu – persatu ucapan ini tapi sedikit saja kita buka.

Kita pernah membahas makna kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” Dengan Nama Allah. Nama Allah sudah mencakup seluruh kehidupan, seluruh alam semesta mulai dicipta hingga ada hingga akan sirna seluruh kehidupan, seluruh sel, seluruh molekul dan semua yang ada di alam semesta ini, itu sudah tercakup dalam kalimat Bismillah. Itu adalah satu butir dari Keagungan Allah Jalla Wa Alla. Arrahman adalah limpahan Rahmat dan Anugerah kebahagiaan, kenikmatan untuk seluruh makhluk yang beriman, yang tidak beriman, yang baik, yang jahat diberi oleh Allah berupa kehidupan dunia. Dan Arrahim adalah Kasih Sayang Allah khusus untuk orang yang beriman yaitu dunia dan akhirat. Jadi seluruh kenikmatan yang pernah ada, pada hewan, tumbuhan, manusia, jin dan seluruh makhluk dan malaikat, mulai mereka dicipta hingga alam ini berakhir sudah ada dalam kalimat Arrahman Arrahim bahkan sampai kenikmatan yang abadi, semua ada dalam kalimat Arrahman Arrahim.

Kita baru bicara 3 kalimat, bagaimana dengan 6660 kalimat Alqur’anulkarim yang mencakup sedemikian agungnya. Sang Nabi berkata “Audzubikalimatillahittammah ..” Aku berlindung kepada Allah demi seluruh kalimat – kalimat Allah, (Alqur’anulkarim). Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari menjelaskan bahwa ini juga menurut sebagian ulama bermakna seluruh ketentuan Allah, seluruh takdir – takdir Allah, terpadu dalam kalimat Allah : “Audzubikalimatillahittammah..”. (lalu selanjutnya) “…min kulli syaithan wa hammah..” dari segala syaitan. Syaitan yang dhahir, syaitan yang batin. Syaitan yang batin menggoda jiwa kita, syaitan yang dhahir yang mengganggu, merasuki, sihir dan lain sebagainya. Itulah syaitan yang dhahir. Kalau yang batin gangguan kesurupan dan lain sebagainya.

“…min kulli syaithan wa hammatin..”. “Hammatin” Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari menjelaskan maknanya adalah semua racun, segala racun, apakah itu racun yang membunuh atau racun yang tidak membunuh. Jadi si anak bayi ini diminta perlindungan Allah dari racun – racun. Barangkali ia tidak tahu, ini masih kecil makan sesuatu yang meracuni dirinya atau diracun orang lain maka ia terjaga dari racun. “..wa min kulli a’inin lammah” dan dari segala hal – hal yang membawa kerusakan akal. Apakah itu beruapa gila atau berupa hal – hal yang bersifat kerusakan jiwa dan akal terlindungi oleh kalimat ini. Yang mengucapkan kepada bayinya atau anaknya maka ia telah mengucapkan kalimat yang telah melindungi Sayyidina Hasan wa Husein radiyallahu anhuma hingga dalam keridhaan Illahi sehingga keduanya menjadi 2 pemuda pemimpin ahli surga. Dan tentunya kalimat ini bukan pertama kalinya diucapkan oleh Sang Nabi saw tapi kalimat ini adalah ucapan Nabiyullah Ibrahim untuk Nabi Ismail dan Nabi Ishaq yang keduanya kemudian menjadi orang – orang yang mulia dan suci. Terjaga dari penyakit akal, terjaga dari segala godaan syaitan, terjaga daripada segala hal yang munkar. Dengan ucapan inilah Nabi Ismail alaihissalam menjadi manusia yang mulia dengan doa keagungan kalimat – kalimat Ilahi.

Yang kemudian dari keturunan Nabi Ismail, muncullah Sayyidina Muhammad Saw, Sayyidatuna Fatimah Azzahra (putri Nabi Muhammad Saw) dan keturunannya Sayyidina Hasan wa Husein, dan selanjutnya dari para Habaib dan Akramin. Demikian agungnya kalimat ini, yang tampaknya hal yang sangat remeh tapi kalau kita buka inilah rahasia Rahmatnya Allah yang muncul dengan kebangkitan Sayyidina Muhammad Saw. Maka kita membaca kalimat ini sering – sering bukan dari kalimat haditsnya (saja) tapi dari kalimat “Audzubikalimatillahittammati min kulli syaithan wa hammah wa minkulli a’inin lammah”. Jadi Nabi saw mengajari, mendoakan, melindungi Sayyidina Hasan wa Husein dengan doa in iagar terlindungi daripada racun, daripada sihir dan lain sebagainya.

Ikhwan-akhwat fillah yang berbahagia,
Demikian indahnya tuntunan Nabi kita Rasulullah Saw, manusia yang paling sempurna hingga tuntunan beliau. Ucapan Nabi Ibrahim itu berapa ribu tahun sebelum Nabi Muhammad Saw. Nabi Isa saja 600 tahun sebelum Nabi Muhammad saw. Ini Nabi Isa jauh kepada Nabi Musa, Nabi Musa jauh lagi keatas kepada Nabi Ibrahim alaihis salam. Mungkin 4000 – 5000 tahun. Namun ucapan itu tetap ada karena diajari oleh Yang Maha Ada. Generasi boleh berubah tapi Allah tetap ada, kalimat agung barangkali sudah dilupakan tapi kemudian muncul lagi (misalnya) 5000 tahun kemudian dan atau sekian tahun kemudian. terbuka lagi rahasia kemuliaan itu, dimunculkan lagi di masa Nabiyyuna Muhammad Saw. Kalimat ribuan tahun yang lalu, Rasulullah Saw diberi tahu oleh Allah “inna abakuma yu’awwidzu biha Ismail wa Ishaq..” ayah nenek moyang kalian dahulu (Nabi Ibrahim) membacakan doa ini untuk Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.

Ikhwan-akhwat fillah yang insya Allah selalu bersyukur,
Maka muncullah kota Makkah dari keberkahan Nabiyullah Ibrahim dan Nabi Ismail dan kesabaran istrinya Nabiyullah Ibrahim alaihis salam. Hingga dibangun kembali Ka’bah yang sudah runtuh dan jadilah kota Makkah sebagaimana yang telah saya sampaikan beberapa waktu yang lalu mengenai sejarah kota Makkah.

Dan tentunya di masa Nabi saw, Rasul saw ketika naik ke atas gunung Uhud sebagaimana diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Rasul saw ketika naik ke atas gunung uhud seraya berkata “hadza jabalun yuhibbuna wa nuhibbuh” gunung ini mencintai kita, (mencintai aku) dan kita mencintai gunung ini. Kita bayangkan gunung uhud yang tidak bisa bersuara, tidak bisa bergerak atau berbuat apa – apa tapi gunung itu gema cintanya dari perasaan batu itu terbaca dan tergema pada sanubari Sayyidina Muhammad Saw.
Beliau saw merasakan cintanya gunung itu kepada beliau saw seraya berkata “inna hadza jabalun yuhibbuna wa nuhibbuh” dan kita juga menjawab cintanya dan aku mencintainya pula, kata Rasul saw. Gunung batu itu ternyata mempunyai perasaan, semua batu, semua butir, semua debu berfikir kepada Allah sebagaimana firman Allah “yusabbihu lillahi ma fissamawati wama fil ardh” bertasbih kepada Allah semua apa yang ada dilangit dan di bumi. Akan tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka. Walaakin laa tafqahuuna tasbiihahum” kalian tidak memahami tasbih dan dzikir mereka. QS. Al Israa’ : 44. Alam semesta ini terus bergemuruh mensucikan Nama Allah karena dicipta oleh Allah termasuk butiran sel tubuh kita. Tinggal jiwa kita yang sepi dari dzikirullah.

Ikhwan-akhwat fillah yang dimuliakan Allah,
Hingga Rasul saw berkata “hadza uhud jabalun yuhibbuna wa nuhibbuh, allahumma inna Ibrahima harrama makkah wa ana uharrimu maa bayna laabatayhaa” wahai Allah, Nabi Ibrahim sudah menjadikan kota Makkah sebagai kota haram (kota suci), maka aku menjadikan pula dan meminta kepada-Mu agar Kau jadikan Madinah ini kota suci. Maka jadilah kota Madinah pun kota suci. “Inniy uharrimu maa bayna labatayhaa” (yaitu) ini diantara 2 bukit ini, kata Rasul, yaitu (yang diantara dua bukit) Madinah Al Munawwarah adalah kota suci.

Sehingga dalam riwayat lainnya, Rasul saw bersabda “Allahumma habbib ilaynal Madinah kahubbina Makkah awa asyadd” wahai Allah jadikan kami mencintai kota Madinah dan jadikan kami mencintainya seperti kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai kota Makkah. Demikian riwayat Shahih Bukhari.

Disini terdapat ikhtilaf para ulama, mana kota yang lebih mulia? Madinah atau Makkah. Sebagian mengatakan Madinah lebih mulia karena Nabi Ibrahim as adalah dibawah panji kepemimpinan Sayyidina Muhammad Saw. Nabiyullah Ibrahim menjadikan kota Makkah sebagai kota suci, Nabi Muhammad Saw menjadikan Madinah sebagai kota suci. Tentunya lebih tinggi derajat Sayyidina Muhammad Saw. Karena beliau Sayyidul Awwalin wa Akhirin yaumal qiyamah (beliau saw pemimpin seluruh manusia yang pertama dan terakhir di hari kiamat *shahih Bukhari). (yaitu) Nabi kita Muhammad Saw. Namun pendapat yang mengatakan kota Makkah lebih afdhal karena kota Makkah juga tanah kelahiran Sayyidina Muhammad Saw. Jadi sudah ada Nabiyullah Ibrahim, jadi kota itu pula tanah kelahiran Sang Nabi saw, kota Madinah tanah wafat Sang Nabi saw dan Masjid Al Aqsa adalah tempat tanah Isra Mi’rajnya Sang Nabi saw. Ketiga tempat itu adalah tempat suci, namun Masjid Al Aqsa dan Baitul Maqdis dan kota Makkah sudah menjadi kota suci sebelum Sang Nabi saw lahir. Namun kota Madinah baru menjadi kota suci di masa Nabiyyuna Muhammad Saw.

Ikhwan-akhwat fillah yang selalu menuntut ilmu dien,
Oleh sebab itulah, rahasia kemuliaan tuntunan Ilahi sampai kepada hamba – hambaNya melalui tuntunan Sang Nabi saw dan setelah wafatnya Sang Nabi saw, rahasia kemuliaan, keberkahan dan kesejahteraan dan kebahagiaan terwariskan kepada para Muhajirin dan Anshar dan diteruskan dari zaman ke zaman. Rahasia keberkahan dan kesejahteraan itu bisa sampai kepada mereka walaupun mereka dalam keadaan yang tidak beriman. Sebagaimana diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika para sahabat keluar berdakwah ke satu wilayah dan di wilayah itu ada 1 suku (musyrikin) yang mana kepala sukunya sedang sakit maka mereka berkata “kalian ini bisa tidak mengobati kepala suku kami , barangkali bisa mengobati?” tentunya mereka diluar Islam, mereka belum mengenal Islam. Namun para sahabat yang memang ingin mengenalkan Islam saling pandang satu sama lain. Akhirnya mereka membacakan surah Al Fatihah di air. Dari sinilah banyak riwayat Shahih Bukhari lainnya bahwa Rasul saw memperbolehkan mengobati dengan air yang didoakan.

Demikian terbukti Rasul saw melakukannya dan para sahabat melakukannya bahkan memberikannya kepada yang non muslim. Menunjukkan hubungan antara muslim dengan yang diluar Islam harus selalu baik secara Islam, secara syari’ah wajib bagi setiap muslim berhubungan baik dengan yang diluar Islam kecuali mereka yang memerangi muslimin maka diizinkan untuk membela diri, maka dengan senjata sekalipun diizinkan, demi untuk membela diri. Tapi selain dari itu, kita mengenal Nabi kita Muhammad Saw baik terhadap musuh dan yang diluar Islam bahkan para sahabat mengobati kepala suku itu, membacakan di air surah Al Fatihah lalu diberikan kepada orang itu dan diminumkan kepada kepala sukunya dan langsung sembuh. (diantara) Mereka masuk Islam, sebagian tidak masuk Islam. Para Sahabat diberilah hadiah berupa seekor kambing, maka dibawa kepada Rasul saw. Sahabat sudah ingin menyembelih dan memakannya tapi mereka saling bertanya “nanti dulu, jangan dimakan dulu, hadiah dari mendoakan seperti ini boleh tidak? (juga hadiah dari non muslim) tanya dulu pada Rasul?” Maka ketika ditanyakan kepada Rasul, Rasul tersenyum gembira dan berkata “boleh sembelih dan berikan aku sebagian darinya”. Al Imam Ibn Hajar berkata bukan Rasul saw ingin daripada bagian itu tapi Rasul ingin menghilangkan syak wasangka daripada pribadi para sahabat terhadap barang pemberian (hadiah itu).

Ikhwan-akhwat fillah, demikian indah dan agungnya keberkahan dari bibir orang yang beriman membacakan surah Al Fatihah di air bisa menyembuhkan bahkan kepada yang diluar Islam. Ternyata hal itu terbukti secara ilmiah bahwa air bereaksi pada ucapan (orang) yang ada di depannya. Air itu berubah dan bereaksi dengan getaran jiwa orang yang dihadapannya. Apakah dengan tulisan atau dengan ucapan. Air yang dihadapannya di caci – maki, diperdengarkan ucapan – ucapan emosi maka dilihat dalam skala tertentu pada mikroskop maka akan terlihat bahwa air itu berubah menjadi buruk bentuknya. Demikian ucapan Prof. Masaru Emoto dari Jepang. Dan ia berkata jika diucapkan dari ucapan orang yang baik, ucapan yang polos, ucapan terima kasih, pujian, ia (prof tsb) tidak mengenal Islam hingga ia tidak berkata hanya doa saja ucapan yang baik. Tentunya doa lebih baik lagi karena merupakan kalimat – kalimat Allah tentunya. Maka air itu jika dilihat dengan skala tertentu berubah bentuknya menjadi indah. Air itu bereaksi dengan getaran jiwa. Hadirin – hadirat, lebih – lebih lagi kalimat Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, Maha Suci Allah Swt yang telah memuliakan kita untuk hadir di majelis agung ini di dalam rahasia kemuliaan Allah Yang Maha Tinggi. Maha Tinggi Keluhurannya bukan dengan jarak dan bukan dengan ukuran tapi Maha Tinggi dengan ketinggian yang abadi mengungguli segala keunggulan karena bersumber darinya segalanya keluhuran.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika dua orang sahabat yang saling percaya karena Allah, Kita berbicara seputar Keagungan Allah dari mulai kalimat – kalimat doa yang menyelamatkan anak – anak kita barangkali bisa dibaca juga untuk kita tentunya boleh. Doa tadi yang dituliskan di hadits sampai membuka keselamatan kita dari segala gangguan syaitan, sihir, racun dan segala – galanya daripada penyakit – penyakit lainnya. Ini seringlah diulang – ulang untuk diri kita, untuk anak kita dan untuk keturunan kita.

Ikhwan-akhwat fillah, lantas kita berbicara tentang keagungan surah Al Fatihah dan keagungannya dibacakan kepada orang yang sakit, lalu kita berbicara tentang air yang bereaksi tapi tentunya bukan hanya air tapi alam semesta ini bereaksi dengan getaran jiwa. Karena apa? Karena jiwa yang beriman, jiwa yang suci dengan Nama Allah merubah keadaan.

Ketika dua sahabat bertemu dan berkata “aku ingin pinjam uang padamu sebesar 1000 dinar” maka sahabatnya punya uang dan berkata “iya, aku setuju”. Jaminannya apa? “Jaminannya Allah”. Maka orang yang punya uang juga orang yang cinta kepada Allah, maka ia berkata “ya sudah jaminannya Allah, tapi saksinya siapa?” temannya berkata “saksinya Allah” jadi dengan saksi, jangan tanpa saksi ia berkata “saksinya Allah”. Sekarang batin ini orang yang sangat cinta kepada Allah ini berkata “saksi manusia saja saya terima apalagi saksinya Allah” maka ia pun memberikan uang 1000 dinar. “kapan mau dikembalikan?” “tanggal anu, hari anu” lalu ia memberikan 1000 dinar. Sampai waktu yang sudah mulai ditentukan. Temanku tadi pergi menyeberangi laut, ia datang hampir tepat waktunya berdiri di pinggir laut, sepertinya tidak ada kapal yang merapat. “ia belum datang”. Dalam hatinya ia berkata “wahai Allah salahkah aku percaya engkau sebagai penjamin dan salahkah aku wahai Allah jika aku percaya engkau sebagai saksi?”. Temannya disana rupanya sudah siap pulang, namun disana tidak bisa menyeberang karena tidak ada kapal yang menyeberang ke pulau itu. “wahai Allah salahkah aku sudah mengambil engkau sebagai penjamin dan menjadikan engkau sebagai saksi? Aku sudah berbuat seperti ini?” maka ia pun memasukkan uangnya kedalam kayu kemudian menutupnya dan mengikatnya serta menuliskan surat didalamnya yang kemudian menghanyutkannya ke air. “wahai Allah yang sudah kuambil saksi dan sebagai jaminan, kuberikan dan kutitipkan kepada-Mu”. Maka orang itu menunggu, sudah harinya, tanggalnya, tidak ada sesuatu (kapal atau perahu) yang datang. Kapal (tak ada) apalagi manusia, namun ia melihat sepotong kayu yang menarik perhatiannya. Ini kayu jangan – jangan dari potongan perahu, barangkali ada yang kecelakaan. Ia mengambil kayu itu ternyata terikat, dibuka ikatannya, surat dari temannya (dan uang berisi 1000 dinar) bahwa aku sudah jadikan Allah sebagai penjamin dan saksi. Entah Allah menyampaikannya atau tidak, aku pasrahkan kepada Allah tepat pada waktunya. Demikian jiwa yang bertawakal kepada Yang Maha Mengatur segala keadaan.

Ikhwan-akhwat fillah, tentunya barangkali (sebagian dari) kita belum mampu mencapai derajat seperti ini. Paling tidak kita mendengar kejadian seperti ini sebagai penyejuk jiwa bahwa Yang Maha Ada tetap ada, Yang Maha Berkuasa tetap berkuasa, Dia akan melihat segala kejadian dan menjadikan segala kesulitan kita penghapus dosa dan mengangkat derajat kita.

Oleh sebab itu kita lihat kejadian tsunami yang belum lama, lalu di situ gintung, masjid tidak runtuh juga. Masjid itu perlu diperdalami, apa sejarahnya, masjid itu pasti bekas ada orang shalih (atau dahulu banyak orang shalih di masjid itu) disitu yang pernah melakukan ibadah sehingga masjid itu menjadi benteng dari musibah hingga runtuh wilayah lainnya dan masjid ini tidak disentuh air. Hadirin – hadirat, sudah terjadi di Aceh, terjadi lagi dan lagi di banyak wilayah, menunjukkan Allah ingin menyempaikan pesan kepada penduduk bumi bahwa permukaan bumi masih milik-Ku, kata Allah. Seakan ada pesan bahwa setiap jengkal di permukaan bumi yang Ku-kehendaki sampai padanya musibah akan sampai musibah dan setiap jengkal bumi yang tidak Ku-kehendaki tidak terkena musibah tidak akan disentuh musibah. Tsunami sebesar apapun, koq bias air sedahsyat itu mengenali pagar – pagar masjid.

Demikianlah daripada rahasia keagungan Ilahi. Ada hal yang ingin saya sampaikan dari pertanyaan yang muncul pada saya tentang petasan di maulid, majelis maulid. Apakah hal itu bertentangan dengan sya’riah?. Hal seperti itu mubah karena ada dalil penguatnya tapi terikat kepada situasi dan kondisinya.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika dua orang dari kaum wanita anshar sedang meniup seruling dan disaat itu ada Rasul saw sedang menutup dirinya dengan selimut. Datang Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq, disitu ada istrinya Rasul saw yaitu Sayyidatuna Aisyah radiyallahu anha. Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq datang dan menghardik “di tempat seperti ini, dirumahnya Rasulullah kalian buat keributan, sana jangan bikin keributan disini ini tempatnya Rasulullah..!”. Maka Rasul saw keluar dari dalam selimut dan berkata “wahai Abu Bakar sudah diamkan saja, inikah hari ied (hari raya)”. Padahal hari itu bukan hari raya tapi hari Mina, bukan hari idul adha bukan hari idul fitri. Maka menunjukkan ucapan Rasul saw “ini hari raya” maksudnya hari Mina juga hari kegembiraan. Maka tentunya munasabah – munasabah yang padanya terdapat syiar Islam boleh saja dipakai sesuatu yang untuk lebih mensyiarkan Islam berupa mercon (petasan) misalnya. Tapi dilihat apakah mengganggu wilayah sekitar atau tidak. Kalau tidak mengganggu masyarakat memang suka begitu maka tentunya ada dalilnya sebagaimana yang saya sebutkan riwayat Shahih Bukhari, (dan jelas pada shahih Bukhari dijelaskan bahwa itu bukan hari Idul fitr dan idul adha, tapi hari Mina) Tapi kalau seandainya masyarakat tidak suka dan mengganggu masyarakat maka jangan dilakukan. Kalau saya pribadi tentunya bagi saya kalau di majelis taklim tidak pakai mercon karena majelis taklim, tapi kalau majelis tahunan mau untuk juga syiar masyarakat sekitar, boleh – boleh saja tapi jangan terlalu banyak, (demikian) kalau bagi pribadi saya. Kalau terlalu banyak mengganggu banyak orang, asapnya (mungkin) mengganggu, dan saya juga terganggu karena saya punya penyakit asma.

Ikhwan-akhwat fillah, oleh sebab itu yang saya sampaikan himbauan pertanyaan tentang petasan di acara – acara maulid atau munasabah Islam, bagaimana hukumnya? Hukumnya secara ringkas dalil shahih dari Shahih Bukhari bahwa berbuat sesuatu untuk mensyiarkan hari raya diperbolehkan walaupun bukan hari idul fitri atau hari idul adha. Dan gembira atas hari kelahiran Sang Nabi saw adalah tentunya kelahiran beliau mengawali semua hari raya ada dalilnya, tapi dilihat kondisinya? Masyarakat sekitar suka atau tidak? kalau terganggu jangan dipakai karena mengganggu orang, (maka akan) terkena dosa juga kita (dosa mengganggu orang lain). Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, jadi hukumnya terlihat kepada kondisinya. Bisa berubah dari mubah menjadi sunnah, atau berubah menjadi makruh atau berubah menjadi haram. Dilihat dengan kondisinya. Demikian hadirin – hadirat.

Alhamdulillah acara kita di Istiqlal sukses dan Guru Mulia kita gembira dan saya memohon maaf kepada jamaah dan semua hadirin – hadirat yang hadir di Istiqlal penyampaian saya barangkali tidak sampai kesemua yang hadir di Istiqlal. Dan disampaikan lewat website dan akan dimunculkan juga. Tentunya saya mohon maaf kalau ada hal – hal yang sifatnya kekurangan dari protokoler yang terjadi di masjid Istiqlal, hal itu tentunya semua demi kemajuan dakwah kita, demi bersatunya ulama dan umara, dan tentunya masyarakat muslimin – muslimat bersatu dalam doa dan Guru Mulia kita Al Hafidh Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidh, beliau mengatakan bahwa “acara mulia itu (yang di Istiqlal) membawa kabar gembira bagi negeri ini, semoga membawa kemakmuran bagi kita dan munculnya sebab berkumpulnya kita di Istiqlal hari ahad yang lalu. Semoga Allah jadikan gerbang kebahagiaan kedamaian.

Wahai Allah Yang Maha Menjaga rahasia ribuan tahun, rahasia kebahagiaan Kau jaga dan Kau munculkan kembali, maka munculkan kebahagiaan di hari – hari kami, bagi bangsa kami dan negeri kami, bagi seluruh muslimin – muslimat. Ya Allah pandanglah jiwa kami, pandanglah sanubari kami, wahai Yang Maha terang – benderang, Cahaya yang terang – benderangnya tidak terbaca oleh pandangan mata tapi menerangi jiwa maka terangilah jiwa kami, terangilah siang dan malam kami, wahai Yang Menerangi hari senin, wahai Yang Menerangi tiap hari sepanjang minggunya, wahai Cahaya Penerang sepanjang jalan (kehidupan), wahai Yang Maha Menerbitkan matahari dan bulan, terbitkan dalam jiwa kami cahaya keindahan-Mu, terbitkan dalam jiwa kami cahaya kerinduan kehadirat-Mu, terbitkan dalam jiwa kami keinginan dari cahaya taubat, cahaya istighfar, cahaya yang membuat kami jauh dari kemunkaran dan perbuatan yang hina, cahaya yang membuat kami selalu ingin berbuat baik, cahaya yang membuat kemakmuran dunia dan akhirat, wahai Yang Mengajari kami doa meminta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Semoga terang – benderang jiwa kita dengan kebahagiaan, ketenangan, kemuliaan. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram. Kita teruskan acara dengan doa bersama mendoakan muslimin – muslimat sebagaimana disabdakan Nabi kita Muhammad Saw, riwayat Shahih Muslim “barangsiapa yang berdoa untuk saudara muslimnya maka Allah perintahkan malaikat untuk mengatakan amin walaka mitsluh (amin dan untukmu balasan sebagaimana doamu untuk saudaramu)”. Orang yang mendoakan muslimn – muslimat maka akan sampai kepadanya seluruh kemuliaan dari seluruh jamaah dari seluruh muslimin – musimat di Barat dan Timur yang hidup saat ini dan yang akan hidup kelak sampai kemuliaannya kepada kita. Mari kita berdoa bersama – sama.

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Rabu, 24 Juni 2009

WAKTU (yg telah, sedang dan akan kita lalui)


بسم الله الرحمن الرحيم
Innalhamda li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd,


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat fillah, kita semua paham bahwa Segala keagungan, kemulia'an hanya milik Allah Subahanallahu Wa ta'ala semata, Manusia adalah mahkluk yang dhoif, kita hidup atas curahan Rahmat dan belas kasih-Nya...untuk itu sudah sepatutnya kita mensyukuri, mengabdi dan menta'ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.....

Ada satu hal didunia ini dimana manusia tak berdaya melawannya. Yaitu sang waktu. Inilah kelemahan dasar manusia. Sang waktu begitu perkasannya. Karena waktu , umur memendek, rambut memutih, mentari tergelincir di upuk, jabatan melayang, Itu adalah kenyataan yang kita hadapi dari berjalannya waktu. Para ahli astronomi berkata bahwa umur bumi tinggal 4,5 milliar tahun lagi. Bayangkan 4,5 miliar tahun dianggap tak ada artinya. Bagaimana dengan usia yang berakhir di 65 tahun atau 90 tahun? Ya, kita memang lemah dihadapan sang waktu. Semua kita menuju kepada “akhir” dari sang takdir untuk sampai kepada “keabadian” di sisi-Nya kelak itu semua atas ijin dan Ridhlo-NYA semata.

Berhitung soal waktu maka aku ingin membuat satu tahapan perjalanan usia kita dari bayi sampai dengan tua. Asumsinya bila semua proses berjalan dengan mulus…

Dalam kandungan ibu, kita hidup dalam ruang dan wakut rahim Tapi sebetulnya kita sendiri tidak mengenal ruang dan waktu. Makanya kehidupan didalam rahim tidak ada kewajiban kita untuk mencari nafkah atau bekerja demi bertahan hidup. Semua kebutuhan kita disediakan oleh ibu. Kita menikmati tidur terindah dalam system perlindungan yang priam. Sampai akhirnya kita dipaksa keluar untuk menghirup udara bumi. Disnilah awal kehidupan baru kita. Indahkah dibandingkan dengan alam rahum? Tidak !. Buktinya tak ada satupun bayi yang tak menangis ketika terlepas dari placentanya sebagai awal dia harus menghidupi dirinya sendiri. Tapi, lagi lagi sang takdir belaku. Nothing to choice.

Ketika kita bayi. Allah menyadari bahwa kita butuh penyesuaian untuk mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan. Selama dua tahun kita masih tergantung dari air kehidupan ibu (ASI ) untuk membuat diri kita berkembang. Sampai dengan usia lima tahun , proses waktu berlangsung dibawah perlindungan penuh ibu dan ayah. Pada tahap ini tidak ada yang kita lakukan. Kecuali menjadi beban orang tua dengan limpahan cinta kasih.

Dari usia lima tahun sampai tamat SD, kitapun masih dalam proses belajar untuk memahami bahasa verbal maupun non verbal. Tak ada lain yang kita kerjakan atau kita pikirkan kecuali mengikuti proses ini. Kita masih bahagia atau tidur kita masih bisa pulas dan tak pusing soal mau makan apa besok.

Dari tamat SD ( usia 12) sampai tamat SLTP , kitapun hanya bisa merasa dan melihat berjalannya waktu. Pada tahap ini kita baru mampu berpikir terbatas dan hidup dalam banyak impian. Semua yang ada disekitar kita penuh warna warni. Cinta monyet kadang datang pada usia ini. Sifat egois, dan manja mewarnai usia ini. Singkatnya tak ada yang kita pikirkan tentang beban dan kesulitan hidup. Tidak ada karia yang pasti untuk kita buat terhadap kehidupan kecuali mengikuti berjalannnya waktu dengan apa adanya.

Tamat SLTP ( usia 15 tahun) sampai tamat SMU, tak jauh beda dengan kehidupan sebelumnya ketika SLTP. Hanya bedanya pada usia ini,kita sudah mengetahui hal mana yang salah dan yang benar secara lebih rasional. Sudah mampu berdebat dan menulis mengungkapkan pikiran kita. Namun kemampuan emosional kita masih labil dalam menghadapi berbagai ketidak pastian. Kalau cinta putus kadang kita down.Kalau nilai kita jelek,kita down. Kalau teman ninggalin kita , kita marah. Mudah tersinggung, mudah menyendiri, mudah meledak kegirangan, mudah kecewa adalah keseharian kita. Pada usia ini,tak ada yang istimewa dapat kita kerjakan , apalagi untuk orang banyak. Kita masih menjadi beban..

Dari tamat SMU ( usia 18 tahun ) sampai tamat universitas , kita melewati berjalannya waktu sudah sampai pada tahap ujian penguatan emosi dan daya nalar. Berbagai persoalan datang tak lagi kita sikapi dengan emosional. Kita berusaha untuk bersikap bijak. Walau kadang tak banyak yang siap untuk bijak. Kita dipaksa untuk rasional walau tak banyak yang bisa. Kita dipaksa berpikir analitis ,walau tak banyak yang mampu. Dari semua kondisi ini, kita di create oleh lingkungan kita untuk menjadi intelektual dengan segudang harapan bagi orang tua dan masyarakat. Tapi kita tetaplah belum melakukan apapun. Kita masih menjadi beban…

Setamat universtas ( kalau memang pintar usia kita 22 tahun ). Kita sudah resmi menjadi anggota masyarakat yang intelek. Diyakini menjadi elite didalam masyarakat. Karena maklum saja dinegeri ini hanya 0,001 persen saja yang bisa menikmati perguruan tinggi. Selebihnya hanya jadi penonton. Kita ambil asumsi bahwa setamat universitas kita langsung dapat kerjaan. Maka pada tahap inilah kita baru dianggap berprestasi menyumbang sesuatu kepada masyarakat dan orang tua. Namun , itu akan diuji dalam setelah kita diberi kesempatan berkarya.

Dari usia 22 tahun sampai 30 tahun. Kita berusaha bekerja keras mengumpulkan penghasilan untuk diri kita sendiri. Hasilnya kita tabung untuk berumah tangga Waktu siang dan malam kita habiskan untuk uang dan prestasi kerja agar penghasilan terus bertambah. Pada usia ini yang kita pikirkan adalah diri kita sendiri.Kita belum berpikir untuk orang lain , apalagi untuk masyarakat banyak. Kalaupun ada , mungkin hanya sebatas uang kecil memberi orang tua atau adik. Hanya itu.

Setelah usia 30 tahun sampai 40 tahun, kita menikah. Berumah tangga. Pada perjalanan waktu ini, kita hanya berpikir bagaimana dapat beli rumah. Setelah dapat rumah, kitapun ingin punya kendaraan. Setelah itu kita mulai berpikir untuk menabung agar anak kita dapat persiapan jaminan sekolah. Waktu berlalu kita habiskan dengan kerja keras. Pada tahap ini , kita dalam posisi renta sekali. Makanya orang cenderung individulis. Keamanan diri dan keluarga adalah segala galanya. Masyarakat banyak belum terpikirkan oleh kita. Bagi pegawai negeri ini masanya untuk mendapatkan karir terbaik untuk persiapan madia menuju pensiun.

Dari usia 40 sampai 50 tahun. Pada tahap ini bila asumsi perjalanan waktu sebelumnya berhasil sesuai apa yang diinginkan. Maka yang terjadi dalam rentang waktu ini adalah berusaha untuk tampil lebih kuat, lebih aman untuk diri dan keluarga. Kalau dulu rumah cukup BTN maka sekarang perlu rumah di real estate, Perlu juga apartement atau villa. Perlu lebih dari satu kendaraan karena anak sudah butuh privasi kendaraan sendiri. Begitu banyak tuntutan kebutuhan pada usia ini. Semakin keras ambisi dan kerja kita untuk mendapatkan harta dan uang. Hingga , pada tahap ini tak banyak orang yang mau mikirkan orang lan apalagi berbagi.Karyanya hanya untuk dirinya dan keluarganya.Tak lebih. Kalau dia pegawai negeri maka tahap ini adalah puncaknya untuk memanfaatkan kesempatan dengan segala macam cara untuk kehormatan materi dan materi.

Dari usia 50 tahun sampai 55. Bila dari usia sebelumnya kita berhasil. Maka pada usia ini kita mulai berpikir untuk mendapatkan kehormatan. Kita butuh aktualisasi diri dihadapan orang lain. Harta dan jabatan yang kita sandang sudah kita arahkan untuk mengaktualisasikan diri kita. Yang jenderal pengen jadi dubes atau gubernur. Yang Ekonom pengen jadi menteri atau gubernur. Yang dokter pengen jadi kepala rumah sakit atau punya klinik sendiri. Begitulah. Tapi semuanya itu masih sebatas untuk diri sendiri.

Usia 55 tahun sampai 60 tahiun. Pada usia ini bila tujuan aktualisasi diri terpenuhi maka sebetulnya tak banyak yang bisa diperbuat kecuali rasa bangga dan bangga. Soal karya tak bisa diharapkan lebih karena tenaga dan pikiran tak lagi sekuat ketika muda. Pada usia ini manusia cenderung takut mengambil resiko dan lebih ingin selalu aman dan aman.

Nah kalau ingin jujur, lihat lah tahapan diatas. Apakah yang telah kita perbuat ? tak lebih hanya mengisi waktu untuk mendapatkan sesuatu yang tak bernilai. Harta dan uang berlebih kita kejar tapi ketika usai makan kembali kita buang ke toilet. Jabatan tinggi dengan kekuasaan tinggi , akhirnya tak berdaya ketika harus ngantuk dan tidur.Tidak ingat apapun. Dan ketika saatnya datang takdir , kitapun tak berdaya untuk dipanggil oleh ALLAH. Jadi benarlah kata orang bijak bahwa demi waktu sesungguhnya kita semua hidup dalam keadaan merugi kecuali orang yang bisa menggunakan umurnya untuk kebaikan dan rahmat bagi alam semesta. Caranya adalah gunakanlah sisa umur kita untuk berbuat baik dan berbagi. Bukan soal besar atau kecil nilainya tapi cinta yang besar dibalik perbuatan kita. Itulah yang sebetulnya diinginkan Allah kepada kita agar tidak merugi…tapi kebanyakankita lupa…

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Hikmah Sedekah bagi kehidupan kita

Hikmah Sedekah bagi kehidupan kita
بسم الله الرحمن الرحيم
Innalhamda li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd,

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat fillah dimanapun anda berada,

Kepada siapa anda memberikan sedekah kemarin? satu hari sebelum kemarin? satu pekan yang lalu? bagaimana dengan hari ini atau besok? kemana sedekah anda disalurkan? Sekadar merata-rata jawaban yang mungkin keluar dari sederet pertanyaan di atas, pilihan pertama boleh jadi jatuh ke tangan anak-anak yatim, kemudian fakir miskin, janda, dan lansia berada di urutan berikutnya.

Salah satu kelebihan orang-orang yang sering bersedekah terletak pada keikhlasan. Mereka sangat percaya dan tak pernah mempertanyakan kemana dan kepada siapa sedekahnya berlabuh. Terkecuali bagi mereka yang lebih senang menyerahkannya langsung kepada penerima manfaat. Namun bagi para penyedekah yang meletakkan amanahnya di pundak para pengelola sedekah/infak, kepercayaan menjadi dasarnya.
Meski bukan berarti mereka yang tidak menyalurkannya lewat lembaga pengelola sedekah, dianggap tidak percaya kepada berbagai lembaga tersebut. Ini hanya soal `selera` masing-masing individu yang tidak boleh diganggu-gugat dan patut dihormati.

Yang perlu diingat, kepercayaan bukan berarti tak perlu tahu kemana sedekah anda tersalurkan. Boleh saja setiap individu meminta penjelasan kepada siapa dan untuk apa sedekah yang disalurkannya tertuju. Bukan bermaksud mengabaikan prinsip keikhlasan, namun dalam bersedekah sebaiknya anda tahu alamat sedekah tertuju. Seperti bunyi hadits di atas, ketika anda ingin membantu mengatasi kesulitan orang lain, tahukah anda siapa yang dimaksud orang lain itu? Siapa yang saat ini sedang mengalami kesulitan? mana yang lebih utama untuk diatasi terlebih dulu?

Mari coba kita petakan. Pertama, anak-anak yatim. Jelas mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa mengalami kesulitan selama mereka masih dalam usia berketergantungan dan belum memiliki kemampuan menghidupi diri sendiri. Mereka adalah titipan Allah kepada hamba lainnya yang mampu dan berkewajiban menafkahi anak-anak yatim. Kedua, fakir miskin. Mereka kaum lemah yang memerlukan uluran tangan, dengan tujuan agar mereka mampu berdiri dan mandiri. Ingat, konsepnya harus memberdayakan bukan membuat mereka terus menerus tidak berdaya. Sehingga bersedekah harus mentargetkan para penerima manfaat pada beberapa jenjang. Dari penerima meningkat menjadi tak lagi membutuhkan bantuan karena sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri. Tak sampai di situ, harus terus mendapatkan bimbingan agar status mereka juga meningkat menjadi pemberi sedekah. Jika semua penerima sedekah kelak akan menjadi penyedekah, indah nian negeri ini.

Golongan ketiga yang berhak mendapatkan sedekah, yakni para janda dan lansia. Keduanya nyaris memiliki persoalan yang sama, yakni kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi andalannya. Para janda yang kehilangan tulang punggung pencari nafkahnya, perlu mendapatkan bantuan agar ia terbebas dari kesulitan. Konsepnya tetap sama, yakni memberdayakan agar kelak mampu menjadi orang yang mandiri dan bisa menghidupi keluarganya tanpa perlu lagi menunggu bantuan orang lain. Sedangkan para lansia, mereka telah pula kehilangan masa produktifnya. Tenaganya tak lagi seperti dulu untuk bisa mencari rizki sendiri.

Golongan lainnya, adalah mereka yang bukan anak yatim, bukan fakir miskin, bukan pula janda atau lansia, namun tetap membutuhkan bantuan karena tengah mengalami kesulitan. Antara lain, orang-orang yang terlilit hutang dan orang-orang yang terkena musibah/bencana.

Bencana alam kerap terjadi di negeri ini, dan setiap bencana menyisakan kepedihan mendalam bagi para korban. Tak hanya lantaran kehilangan anggota keluarga yang dicintai, tetap status semi permanen yang berubah dalam sekejap. Pengusaha berubah menjadi orang yang tak punya apa-apa, dermawan yang tiba-tiba harus mengemis meminta bantuan, serta orang-orang yang biasa berkecukupan seketika sangat berkekurangan, untuk mendapatkan makan pagi pun menunggu jatah. Kehidupan pun berubah drastis, rumah mewah tersulap menjadi tenda darurat yang harus berbagi tempat dengan ribuan korban lainnya. Sungguh, para korban bencana juga sangat membutuhkan sedekah dari orang-orang yang tak terkena bencana.

Sejatinya mereka bukan orang-orang yang akan menjadi penerima bantuan terus menerus, asalkan sedekah Anda tetap tersalurkan untuk mereka. Selama masih ada orang-orang yang tetap peduli nasib mereka, para korban bencana itu akan segera terbebas dari status penerima bantuan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Karena, asal mereka adalah orang-orang yang kuat, mandiri, dan bahkan juga para dermawan.

Jika Anda senang bersedekah, dan mengalamatkannya kepada anak-anak yatim, fakir miskin, janda, langsia dan orang-orang yang tengah berada dalam kesulitan, maka bersedekahlah untuk para korban bencana. Karena di lokasi bencana juga terdapat orang-orang yang Anda cari alamat sedekah Anda. Anak yatim, fakir miskin, janda, lansia, orang-orang kesulitan karena tertimpa musibah, merekalah alamat sedekah Anda. Wallaahu` a`lam

Siapa ingin doanya terkabul/dibebaskan dari kesulitan, hendaknya ia membantu/mengatasi kesulitan orang lain (HR. Ahmad).

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

My Big Family

Gubuk kami di Vila Dago Pamulang






Inilah gubuk kecil kami di Vila Dago Pamulang Blok A2/25