Rabu, 24 Juni 2009

WAKTU (yg telah, sedang dan akan kita lalui)


بسم الله الرحمن الرحيم
Innalhamda li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd,


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat fillah, kita semua paham bahwa Segala keagungan, kemulia'an hanya milik Allah Subahanallahu Wa ta'ala semata, Manusia adalah mahkluk yang dhoif, kita hidup atas curahan Rahmat dan belas kasih-Nya...untuk itu sudah sepatutnya kita mensyukuri, mengabdi dan menta'ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.....

Ada satu hal didunia ini dimana manusia tak berdaya melawannya. Yaitu sang waktu. Inilah kelemahan dasar manusia. Sang waktu begitu perkasannya. Karena waktu , umur memendek, rambut memutih, mentari tergelincir di upuk, jabatan melayang, Itu adalah kenyataan yang kita hadapi dari berjalannya waktu. Para ahli astronomi berkata bahwa umur bumi tinggal 4,5 milliar tahun lagi. Bayangkan 4,5 miliar tahun dianggap tak ada artinya. Bagaimana dengan usia yang berakhir di 65 tahun atau 90 tahun? Ya, kita memang lemah dihadapan sang waktu. Semua kita menuju kepada “akhir” dari sang takdir untuk sampai kepada “keabadian” di sisi-Nya kelak itu semua atas ijin dan Ridhlo-NYA semata.

Berhitung soal waktu maka aku ingin membuat satu tahapan perjalanan usia kita dari bayi sampai dengan tua. Asumsinya bila semua proses berjalan dengan mulus…

Dalam kandungan ibu, kita hidup dalam ruang dan wakut rahim Tapi sebetulnya kita sendiri tidak mengenal ruang dan waktu. Makanya kehidupan didalam rahim tidak ada kewajiban kita untuk mencari nafkah atau bekerja demi bertahan hidup. Semua kebutuhan kita disediakan oleh ibu. Kita menikmati tidur terindah dalam system perlindungan yang priam. Sampai akhirnya kita dipaksa keluar untuk menghirup udara bumi. Disnilah awal kehidupan baru kita. Indahkah dibandingkan dengan alam rahum? Tidak !. Buktinya tak ada satupun bayi yang tak menangis ketika terlepas dari placentanya sebagai awal dia harus menghidupi dirinya sendiri. Tapi, lagi lagi sang takdir belaku. Nothing to choice.

Ketika kita bayi. Allah menyadari bahwa kita butuh penyesuaian untuk mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan. Selama dua tahun kita masih tergantung dari air kehidupan ibu (ASI ) untuk membuat diri kita berkembang. Sampai dengan usia lima tahun , proses waktu berlangsung dibawah perlindungan penuh ibu dan ayah. Pada tahap ini tidak ada yang kita lakukan. Kecuali menjadi beban orang tua dengan limpahan cinta kasih.

Dari usia lima tahun sampai tamat SD, kitapun masih dalam proses belajar untuk memahami bahasa verbal maupun non verbal. Tak ada lain yang kita kerjakan atau kita pikirkan kecuali mengikuti proses ini. Kita masih bahagia atau tidur kita masih bisa pulas dan tak pusing soal mau makan apa besok.

Dari tamat SD ( usia 12) sampai tamat SLTP , kitapun hanya bisa merasa dan melihat berjalannya waktu. Pada tahap ini kita baru mampu berpikir terbatas dan hidup dalam banyak impian. Semua yang ada disekitar kita penuh warna warni. Cinta monyet kadang datang pada usia ini. Sifat egois, dan manja mewarnai usia ini. Singkatnya tak ada yang kita pikirkan tentang beban dan kesulitan hidup. Tidak ada karia yang pasti untuk kita buat terhadap kehidupan kecuali mengikuti berjalannnya waktu dengan apa adanya.

Tamat SLTP ( usia 15 tahun) sampai tamat SMU, tak jauh beda dengan kehidupan sebelumnya ketika SLTP. Hanya bedanya pada usia ini,kita sudah mengetahui hal mana yang salah dan yang benar secara lebih rasional. Sudah mampu berdebat dan menulis mengungkapkan pikiran kita. Namun kemampuan emosional kita masih labil dalam menghadapi berbagai ketidak pastian. Kalau cinta putus kadang kita down.Kalau nilai kita jelek,kita down. Kalau teman ninggalin kita , kita marah. Mudah tersinggung, mudah menyendiri, mudah meledak kegirangan, mudah kecewa adalah keseharian kita. Pada usia ini,tak ada yang istimewa dapat kita kerjakan , apalagi untuk orang banyak. Kita masih menjadi beban..

Dari tamat SMU ( usia 18 tahun ) sampai tamat universitas , kita melewati berjalannya waktu sudah sampai pada tahap ujian penguatan emosi dan daya nalar. Berbagai persoalan datang tak lagi kita sikapi dengan emosional. Kita berusaha untuk bersikap bijak. Walau kadang tak banyak yang siap untuk bijak. Kita dipaksa untuk rasional walau tak banyak yang bisa. Kita dipaksa berpikir analitis ,walau tak banyak yang mampu. Dari semua kondisi ini, kita di create oleh lingkungan kita untuk menjadi intelektual dengan segudang harapan bagi orang tua dan masyarakat. Tapi kita tetaplah belum melakukan apapun. Kita masih menjadi beban…

Setamat universtas ( kalau memang pintar usia kita 22 tahun ). Kita sudah resmi menjadi anggota masyarakat yang intelek. Diyakini menjadi elite didalam masyarakat. Karena maklum saja dinegeri ini hanya 0,001 persen saja yang bisa menikmati perguruan tinggi. Selebihnya hanya jadi penonton. Kita ambil asumsi bahwa setamat universitas kita langsung dapat kerjaan. Maka pada tahap inilah kita baru dianggap berprestasi menyumbang sesuatu kepada masyarakat dan orang tua. Namun , itu akan diuji dalam setelah kita diberi kesempatan berkarya.

Dari usia 22 tahun sampai 30 tahun. Kita berusaha bekerja keras mengumpulkan penghasilan untuk diri kita sendiri. Hasilnya kita tabung untuk berumah tangga Waktu siang dan malam kita habiskan untuk uang dan prestasi kerja agar penghasilan terus bertambah. Pada usia ini yang kita pikirkan adalah diri kita sendiri.Kita belum berpikir untuk orang lain , apalagi untuk masyarakat banyak. Kalaupun ada , mungkin hanya sebatas uang kecil memberi orang tua atau adik. Hanya itu.

Setelah usia 30 tahun sampai 40 tahun, kita menikah. Berumah tangga. Pada perjalanan waktu ini, kita hanya berpikir bagaimana dapat beli rumah. Setelah dapat rumah, kitapun ingin punya kendaraan. Setelah itu kita mulai berpikir untuk menabung agar anak kita dapat persiapan jaminan sekolah. Waktu berlalu kita habiskan dengan kerja keras. Pada tahap ini , kita dalam posisi renta sekali. Makanya orang cenderung individulis. Keamanan diri dan keluarga adalah segala galanya. Masyarakat banyak belum terpikirkan oleh kita. Bagi pegawai negeri ini masanya untuk mendapatkan karir terbaik untuk persiapan madia menuju pensiun.

Dari usia 40 sampai 50 tahun. Pada tahap ini bila asumsi perjalanan waktu sebelumnya berhasil sesuai apa yang diinginkan. Maka yang terjadi dalam rentang waktu ini adalah berusaha untuk tampil lebih kuat, lebih aman untuk diri dan keluarga. Kalau dulu rumah cukup BTN maka sekarang perlu rumah di real estate, Perlu juga apartement atau villa. Perlu lebih dari satu kendaraan karena anak sudah butuh privasi kendaraan sendiri. Begitu banyak tuntutan kebutuhan pada usia ini. Semakin keras ambisi dan kerja kita untuk mendapatkan harta dan uang. Hingga , pada tahap ini tak banyak orang yang mau mikirkan orang lan apalagi berbagi.Karyanya hanya untuk dirinya dan keluarganya.Tak lebih. Kalau dia pegawai negeri maka tahap ini adalah puncaknya untuk memanfaatkan kesempatan dengan segala macam cara untuk kehormatan materi dan materi.

Dari usia 50 tahun sampai 55. Bila dari usia sebelumnya kita berhasil. Maka pada usia ini kita mulai berpikir untuk mendapatkan kehormatan. Kita butuh aktualisasi diri dihadapan orang lain. Harta dan jabatan yang kita sandang sudah kita arahkan untuk mengaktualisasikan diri kita. Yang jenderal pengen jadi dubes atau gubernur. Yang Ekonom pengen jadi menteri atau gubernur. Yang dokter pengen jadi kepala rumah sakit atau punya klinik sendiri. Begitulah. Tapi semuanya itu masih sebatas untuk diri sendiri.

Usia 55 tahun sampai 60 tahiun. Pada usia ini bila tujuan aktualisasi diri terpenuhi maka sebetulnya tak banyak yang bisa diperbuat kecuali rasa bangga dan bangga. Soal karya tak bisa diharapkan lebih karena tenaga dan pikiran tak lagi sekuat ketika muda. Pada usia ini manusia cenderung takut mengambil resiko dan lebih ingin selalu aman dan aman.

Nah kalau ingin jujur, lihat lah tahapan diatas. Apakah yang telah kita perbuat ? tak lebih hanya mengisi waktu untuk mendapatkan sesuatu yang tak bernilai. Harta dan uang berlebih kita kejar tapi ketika usai makan kembali kita buang ke toilet. Jabatan tinggi dengan kekuasaan tinggi , akhirnya tak berdaya ketika harus ngantuk dan tidur.Tidak ingat apapun. Dan ketika saatnya datang takdir , kitapun tak berdaya untuk dipanggil oleh ALLAH. Jadi benarlah kata orang bijak bahwa demi waktu sesungguhnya kita semua hidup dalam keadaan merugi kecuali orang yang bisa menggunakan umurnya untuk kebaikan dan rahmat bagi alam semesta. Caranya adalah gunakanlah sisa umur kita untuk berbuat baik dan berbagi. Bukan soal besar atau kecil nilainya tapi cinta yang besar dibalik perbuatan kita. Itulah yang sebetulnya diinginkan Allah kepada kita agar tidak merugi…tapi kebanyakankita lupa…

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tidak ada komentar: